
berkehendak akanmu, semakin larut saja malam terasa
kuingat wajahmu dengan rindu yang dekil dan sedikit sesal
Aku tahu benar tak bisa apa-apa selain menanti
bercakap hari kemarin
dan waktu yang tak pernah bisa dijagal
di unggunan rinduku
Aku tak cukup ingatan mereka-reka jalan bagi penantian
Sebab sangsi, sebab sangsai, jenuhku melaju,
berapa lama kita berdaya begini
Cukup di penghabisan lelah yang kuragukan—aku masih ingin di sini
Bersamamu, barangkali kan bersitegang rindu sendiri
—dengan sebelah sayap terpanggang
Ilalangsenja, 2006
Deddy Arsya
sarkofagus
(satu)
menggali makam berdua
kusiapkan tubuh
dan pergi menjadi puisi
dan kau membacakannya
dengan suara setengah takut
orang-orang bertukar redup di jalan-jalan
siapa menenggelamkan gelap kian malam
aku duduk menunggumu
masih sendiri dan gagu
ajaklah aku keluar satu; menujunya
di tahun-tahun licin
musim-musim tergelincir
lagu penyair terdengar ganjil
seperti riwayat hilang timbul dalam lupa
catatan kabur
gelap hari berguruh berkilat
menggali makam berdua
kusiapkan tubuh
dan pergi menjadi puisi
biar gaduh suara-suara
aku telah sedia luluh
ini hidup padamu bawalah kemana
dan nanti tak bersua lagi
aku tahun-tahun getir tergelincir
dan usia yang bergerak rapuh
tanah berpijak menjadi lagu riang
ketika pulang
dan terang mendiamimu selalu
(dua)
waktuku, aku ingin sendirian
dan berharap sejuk maut
mengusap lembut di dadaku cepat
jika lama, dekap aku
gagap cintaku, cemas-latah usiaku
di liang nyata mimpi kita
terimalah aku seperti sedia kala
jalan ke rumahmu masih ditimbun angin?
(hidup akan lama, katamu)
dekap mati aku sekuatmu
sampai mati lemas was-was dalam diri
(di mana ujung puisi)
(tiga)
menggali makam berdua
kusiapkan tubuh dan pergi menjadi puisi
(Mahasiswa Jurusan SKI Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar