Selasa, 31 Maret 2009

Tentara Semut

Cerpen Deddy Arsya (Padang Ekspres, 18 Mei 2008)

Marzuki awalnya tersebut sebagai seorang penabuh dulang. Jika ada perhelatan perkawinan di kampung kami, ia akan diundang menyanyikan kisah-kisah para rasul sampai pagi. Orang-rumah akan memberinya sedikit bayaran. Namun, jika tak ada lagi undangan menabuh dulang, ia akan mengerjakan sawah kaumnya seperti kebanyakan orang. Hidup dari sawah dan ladang.
Tetapi, ketika perang saudara itu menyalak, ia malah mendapat kepercayaan sebagai tukang antar-jemput peluru. Semacam kurir-lah begitu.
Jika suara bedil terus terdengar dalam dua jam kira-kira, dapat dikatakan, setelahnya, Marzuki akan sibuk bolak-balik memasok butiran-butiran peluru kepada front yang sedang bertempur. Ia yang kuat, bidang bahunya yang lebar menonjol, dan pangkal lengannya yang besar-padat, akan dengan leluasa menuruni lembah-lembah, mendaki bukit-bukit, dengan ransel-ransel penuh peluru di bahu.
“Jika aku berada di pihak si Marzuki, aku akan menanggalkan pekerjaan itu,” kata ayahku dahulu ketika menceritakan kisah ini kepada kami. “Dapatkah kau bertahan membayangkan dirimu adalah seorang yang ditugaskan membawa peluru ke mana-mana, tapi tak pernah diberi kesempatan memegang senjata, bahkan sepucuk bedil pun ‘haram’ untuk dapat kau letuskan?”
Kata ayahku melanjutkan, “ada masanya, dia tiba-tiba menelurkan pikirannya yang cerdas. Tapi kecerdasannya yang sebentar itu tak akan mengalahkan kepandirannya yang berkelanjutan.”
***
Aku ceritakan begini. Mungkin saja yang kuceritakan ini tak sama persis seperti yang pernah diceritakan ayahku kepada kami dulu. Beberapa bulan lamanya Marzuki keluar-masuk rimba bersama tentara pemberontak. (Seingatku, ayah kami tidak menyebut kata pemberontak, tetapi aku tak tahu apa kata yang tepat untuk menyebut orang-orang yang melawan itu?) Ia menghadapi pertempuran-pertempuran sengit berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan. Tetapi, sekali lagi aku katakan, ia tak sekali pun diberi kepercayaan meletuskan senjata. Maka entah apa muasalnya hingga terpikir oleh otak pandirnya itu untuk membuat bedil sendiri.
Agar peluru (yang diletakkannya pada bagian tengah bambu yang telah dia lubangi sedemikian rupa) dapat meletus, maka ia meregang ban dalam sepeda ontel (yang entah di mana ia dapatkan). Pada salah satu ujung ban dalam itu telah diikatkan sebatang paku. Ujung lain ban dalam sepeda ontel itu diikatkannya pada pelatuk kawat bekas jerat babi. Begitu pelatuk itu ditekan, ban dalam sepeda ontel yang regang itu akan lepas. Kepala paku yang diikatkan di ujung lainnya akan mengenai bokong peluru. Begitu bokong peluru dihantam dengan keras oleh kepala paku. Maka dapat diperkirakan, peluru itu pun akan meletus. Ujung peluru yang tajam itu akan terbang menuju sasarannya.
Begitu bedil buatannya selesai, ia mencobakan sendiri hasil kerjanya. Seperti yang diperkirakan semula, seketika pelatuknya ditekan, ban dalam sepeda ontel yang meregang akan lepas, kepala paku akan menghantam bokong peluru. Peluru itu pun meletus! Ujung peluru yang tajam itu pun terbang melesat!
Tetapi ada yang dilupakan Marzuki tampaknya. Bahwa dengan melupakan hal yang satu ini dia kemudian tetap dikenang sebagai si pandir.
Ia lupa untuk membuat lubang tempat keluar selongsong peluru!
Begitu pelatuk ditekan, dan peluru berhasil meletus, bedil dari bambu itu rengkah karena hantaman selonsong peluru yang tak mendapat jalan keluar. Dan sembilu tajam hasil pecahan bedil buatannya itu membelah perut Marzuki sepanjang jangkar. Dari belahan itu, keluar menjuntai usus merah mudanya. Orang-orang yang menyaksikan kisah ini akan berkata sambil tertawa terbahak-bahak,
“Eee, Pandir!”
Si pandir Marzuki, semoga ruhnya tenang di alam sana, ternyata tak mati. Sempat dia tertawa kecil mengenang usahanya yang sia-sia sebelum akhirnya dia roboh ke tanah bersimbah darah. Namun, setelah kesembuhannya yang tak lama, dia kembali ditugaskan menjadi tukang antar-jemput peluru. Semacam kurir-lah begitu. Bagi teman-temannya sesama tentara rimba, yang sama-sama pernah menjalani latihan baris-berbaris di tanah lapang di kampug kami beberapa waktu sebelum perang saudara itu meletus, yang telah diberi hak memegang senjata.
Ada terbersit keinginan di hati mereka untuk mempercayakan sepucuk senapan kepada si Marzuki. Mungkin karena iba, atau entah karena apa. Mereka juga menginginkan si Marzuki ikut maju ke front. Namun, menurut komandan mereka yang berasal dari Darek sana, karena membayangkan kepandiran Marzuki sebelumnya, membuat niat baik itu urung terlaksana. Apalagi jika Marzuki ikut maju ke front, tidak ada lagi orang yang sepandir dirinya yang mau disuruh-suruh ke mana pun. Menjadi tukang antar-jemput peluru, atau sesekali ditugaskan menjemput beras kepada ibu-ibu ke pinggir kampung.
O, kurir yang pandir! Bukankah hanya si pandir yang bersedia menjadi kurir?
Demikianlah si pandir Marzuki tetap saja hanya menjadi tukang antar-jemput peluru. Semacam kurir-lah begitu. Padahal, nalurinya sebagai lelaki sudah gatal-gatal untuk turut mengokang senjata, menembak dan menjatuhkan musuh sekali tiga.
***
Sudah setahun lebih perang berkecamuk. Apalagi kemudian, sejak sebatalion TP (Tentara Pelajar) masuk dari Padang lewat Darek ke Pesisir itu, kecamuk peperangan dapat dikatakan tak lagi ada jedanya. Pertempuran semakin sengit di sana-sini. Dan Marzuki, tentu sudah tak memungkinkan lagi menjadi kurir. Sebab persedian peluru semakin menipis. Sebab semua pintu saluran peluru dari pihak asing telah ditutup Tentara Pusat. Maka setiap prajurit harus membawa pelurunya sendiri sebanyak mungkin. Dengan demikian, Marzuki akhirnya harus diberi senjata juga.
Hah, ada yang lega semestinya.
Karena kekuatan berlari dan napas Marzuki yang seakan-akan tak habis-habis, ia diberi kepercayaan memanggul sepucuk senapan mesin otomatis yang berat. Senapan itu mampu memuntahkan beratus-ratus butir peluru dalam sekian detik.
Marzuki yang bernapas kuda akan diperintahkan berlari dari satu titik ke titik yang telah ditentukan hanya sekedar untuk meletuskan senapan mesin otomatis yang dipercayakan kepadanya itu. Hanya untuk membuat tentara musuh takut, dan berpikir, bahwa lawan mereka mempunyai begitu banyak senapan mesin. Tentara musuh perlahan akan mundur karena gentar pada kelengkapan persenjataan lawan mereka.
Walaupun terdengar hebat olehmu Marzuki dalam berperang, tetap saja ia akan tersebut sebagai si pandir. Si Pandir yang pernah menjadi seorang kurir. Kurir peluru. Hingga kisah ini kuceritakan kepadamu, maka cobalah untuk sedikit berbesar-hati menghomatinya dengan sekali-kali menyebutnya “Marzuki yang cerdas dan berani!” Atau gelar apa pun yang tidak berkonotasi pandir-lah begitu.
***
Perang saudara itu usai. Tiga tahun lebih. Marzuki, yang sebelum perang meletus adalah seorang penabuh dulang, kini diminta kembali menyanyikan kisah para nabi pada setiap perhelatan perkawinan di kampung kami.
Sekali ia diundang walinagari yang baru saja diangkat. Ia diminta turut memeriahkan malam pengangkatan walinagari itu: Menabuh dulang dan menyanyikan kisah para nabi yang mendayu-dayu semalam suntuk.
Sejak saat itu, sampai beberapa waktu kemudian, Marzuki akan tercatat sebagai seorang cerdas yang mampu menyesuaikan diri dalam keadaan macam apa pun. Berguna benar pepatah ‘terkurung hendak di luar, terhimpit hendak di atas’ baginya. Teman-teman sesama bekas tentara rimba, dalam waktu tertentu, tak akan lagi berani mengingatnya sebagai si Pandir.
Begitu hebat dan penting posisinya ketika itu. Jika ada yang hendak bepergian ke suatu tempat, kepadanya orang itu akan mengadu. Agar Marzuki mau menolongnya memintakan surat izin bepergian kepada walinagari. Karena Marzuki berkawan dengan walinagari itu. Berkawan dekat, seperti ampu dan telunjuk.
Tersebutlah kemudian Marzuki sebagai pesuruh walinagari yang penolong dan murah hati. Semacam kurir-kah kalau begitu?
Tetapi di suatu malam, muasalnya si pandir tetap saja akan menjadi si pandir, yang pelupa, yang acap salah dalam bertindak. Jika pun ia tiba-tiba cerdas, kecerdasannya yang singkat itu tak akan mengalahkan kepandirannya yang berkelanjutan. Adalah Marzuki dijemput orang beramai-ramai. Namanya tertera di daftar panjang nama-nama yang dikirim Kodim ke kampung kami.
Orang-orang hanya akan bersorak:
“Eee, Pandir!” .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar